I.
Contiguous
Conditioning (Pembiasaan Asosiasi Dekat)
Teori belajar
pembiasaan asosiasi dekat (Contiguous conditioning) adalah sebuah teori yang
mengasumsikan terjadinya peristiwa belajar berdasarkan yang mengasumsikan
terjadinya peristiwa peristiwa belajar berdasarkan kedekatan hubungan antara
stimulus dengan respon yang relevan . contiguous Conditioning sering disebut
sebagai teori belajar istemewa karna paling sederhana dan efisien , karna
didalamnya hanya terdapat satu prinsip ,yaitu kontiguitas (contiguity) yaitu
kedekatan antara stimulus dan respon. Dalam teori ini apa yang sesungguhnya
dipelajari orang, misalnya seseorang siswa, adalah reaksi atau respon terakhir
yang muncul atas sebuah rangasangan atau stimulus. Yang berarti setiap
peristiwa belajar hanya mungkin terjadi sekali saja untuk selamanya atau sama
sekali tak terjadi (Reber,1989:153). Perbandingan penemu teori tersebut yakni
Edwin R. Guthrie(1886-1959), peningkatan berangsur-angsur kinerja hasil dari
pelbagirespons komples terhadap stimulus –stimulus sebagaimana yang diyakini
para behavioris lainnya ,melainkan karena dekatnya asosiasi antara stimulus
dengan respon yang diperlukan. Dalam
kehidupan sehari-hari kita menemui proses pembelajaran ini seperti contoh
sederhana
2+2 maka
hasilnya 4 , mengasosiasikan kewajiban di bulan ramadhan dengan puasa, dan
mengasosiasikan 17 Agustus sebagai hari
kemerdekaan Indonesia. Belajar seperti ini disebut belajar dengan kontiguitas
sederhana seperti asosiasi-asosiasi tersebut dapat terjadi misalnya dengan
menyajikan stimulus-stimulus berikut
Dua ditambah dua sama dengan…..
Kewajiban di bulan Ramadhan
adalah…..
Tanggal 17 Agustus adalah……
Dan pasti
jawaban mereka empat,puasa, dan hari kemerdekaan. Ini menujukan adanya
peristiwa dalam belajar dalam diri para siswa tersebut.
Perlu dicatat
dalam teori contiguous conditioning sebagai slaah satu cabang mahzab
behavioristik itu tak dapat diterima begitu saja terutama mengigant
kecenderungan yang serba mekanis dan otomatis seperti robot dan mesin.
Padahal,dalam kebanyakan proses belajar yang dialamai manusia , peranan insight
,”tilikan akal” dan informasi prosesing “ tahapan pengolahan informasi” baik
disadari atau tidak selalu terjadi dalam diri setiap siswa yang sedang
mengalami peristiw belajar. Sehubungan dengan ini , Hilgard dan Bower(1975:121)
menyatakan bahwa meskipun kepercayaan terhadap teori Contiguous Conditioning
akan berlanjut terus namun teori tersebut sebenarnya telah kehilangan daya
tarik bagi generasi penerus ahli psikologi belajar seiring dengan munculnya dan
populernya psikologi kognitif.
Yang dimaksud
dengan asosiasi ialah hubungan antara tanggapan yang satu dengan reproduksi
adalah kemampuan jiwa untuk mengeluarkan kembali tanggapan dalam hal kesadaran.
Disamping itu ada juga jenis-jenis reproduksi yaitu:
1. Menurut yang menimbulkan
- Reproduksi dengan perantara artinya timbulnya akibat
adanya perangsangan dari luar
- Reproduksi tanpa perantara yaitu datang dengan sendirinya
2. Menurut cara timbulnya
- Reproduksi terikat yaitu reproduksi yang timbul dengan
sengaja
- Reproduksi bebas yaitu reproduksi yang timbulnya tidak
disengaja dan timbulnya timbulnya itu bersift apa adanya.
II.
Teory Belajar Menurut Edwin R. Guthrie(1886-1959),
Menurut teori contiguous conditioning,
belajar itu adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya
syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (respons).
Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat
dipandang sebagai deretan-deretan tingkah laku yang terdiri dari unit-unit.
Unit-unit tingkah laku ini merupakan reaksi dari stimulus sebelumnya, dan
kemudian unit tersebut menjadi stimulus untuk tingkah laku yang berikutnya.
Demikianlah seterusnya sehingga membentuk deretan-deretan tingkah laku yang
terus menerus. Jadi pada proses conditioning ini terjadi asosiasi antara
unit-unit tingkah laku secara berurutan.
Guthrie menegaskan dengan hukumnya yaitu “The
Law of Association”, yang berbunyi : “A combination of stimuli which has
accompanied a movement will on its recurrence tend to be followed
by that movement” (Guthrie, 1952 :13). Secara sederhana dapat diartikan
bahwa gabungan atau kombinasi suatu kelas stimuli yang menyertai atau mengikuti
suatu gerakan tertentu, maka ada kecenderungan bahwa gerakan itu akan diulangi
lagi pada situasi/stimuli yang sama. Teori behaviorisme yang menekankan adanya
hubungan antara stimulus (S) dengan respons (R) secara umum dapat dikatakan
memiliki arti yang penting bagi siswa untuk meraih keberhasilan belajar.
Caranya, guru banyak memberikan stimulus dalam proses pembelajaran, dan dengan
cara ini siswa akan merespons secara positif apa lagi jika diikuti dengan
adanya reward yang berfungsi sebagai reinforcement (penguatan
terhadap respons yang telah ditunjukkan).
Pandangan Guthrie tentang Motivasi, Lupa, Hukuman,
Niat, Transfer Training sebagai berikut:
1. Lupa
Menurut Guthrie, lupa disebabkan oleh munculnya respons alternatif dalam satu pola stimulus. Setelah pola stimulus menghasilkan respons alternatif, pola stimulus itu kemudian akan cenderung menghasilkan respons baru. Jadi menurut Guthrie, lupa pasti melibatkan proses belajar baru. Contohnya sebagai berikut: Seseorang yang belajar tugas A dan kemudian belajar tugas B lalu diuji untuk tugas A. satu orang lainnya belajar tugas A, tetapi tidak belajar tugas B, dan kemudian diuji pada tugas A. secara umum akan ditemukan bahwa orang pertama mengingat tugas A lebih sedikit ketimbang orang kedua. Jadi, tampak bahwa mempelajari hal baru (tugas B) telah mencampuri retensi dari apa yang dipelajari sebelumnya (tugas A). Pendapatnya adalah bahwa setiap kali mempelajari hal yang baru, maka proses itu akan menghambat sesuatu yang lama. Dengan kata lain, lupa disebabkan oleh intervensi. Tak ada intervensi, maka lupa tidak akan terjadi.
Menurut Guthrie, lupa disebabkan oleh munculnya respons alternatif dalam satu pola stimulus. Setelah pola stimulus menghasilkan respons alternatif, pola stimulus itu kemudian akan cenderung menghasilkan respons baru. Jadi menurut Guthrie, lupa pasti melibatkan proses belajar baru. Contohnya sebagai berikut: Seseorang yang belajar tugas A dan kemudian belajar tugas B lalu diuji untuk tugas A. satu orang lainnya belajar tugas A, tetapi tidak belajar tugas B, dan kemudian diuji pada tugas A. secara umum akan ditemukan bahwa orang pertama mengingat tugas A lebih sedikit ketimbang orang kedua. Jadi, tampak bahwa mempelajari hal baru (tugas B) telah mencampuri retensi dari apa yang dipelajari sebelumnya (tugas A). Pendapatnya adalah bahwa setiap kali mempelajari hal yang baru, maka proses itu akan menghambat sesuatu yang lama. Dengan kata lain, lupa disebabkan oleh intervensi. Tak ada intervensi, maka lupa tidak akan terjadi.
2. Hukuman
Guthrie mengatakan efektivitas punishment (hukuman) ditentukan oleh apa penyebab tindakan yang dilakukan oleh organisme yang dihukum itu. Hukuman bekerja baik bukan karena rasa sakit yang dialami oleh individu terhukum, tetapi karena hukuman mengubah cara individu merespons stimuli tertentu. Hukuman akan efektif jika menghasilkan respons baru terhadap stimuli yang sama.Hukuman berhasil mengubah perilaku yang tidak diinginkan karena hukuman menimbulkan perilaku yang tidak kompatibel dengan perilaku yang dihukum. Hukuman akan gagal jika perilaku yang disebabkan oleh hukuman selaras dengan perilaku yang dihukum. Misalnya, seorang guru yang melihat siswanya ramai, siswa tersebut diingatkan, jika masih tetap ramai, guru menghukum siswa untuk menyanyi di depan kelas.
Guthrie mengatakan efektivitas punishment (hukuman) ditentukan oleh apa penyebab tindakan yang dilakukan oleh organisme yang dihukum itu. Hukuman bekerja baik bukan karena rasa sakit yang dialami oleh individu terhukum, tetapi karena hukuman mengubah cara individu merespons stimuli tertentu. Hukuman akan efektif jika menghasilkan respons baru terhadap stimuli yang sama.Hukuman berhasil mengubah perilaku yang tidak diinginkan karena hukuman menimbulkan perilaku yang tidak kompatibel dengan perilaku yang dihukum. Hukuman akan gagal jika perilaku yang disebabkan oleh hukuman selaras dengan perilaku yang dihukum. Misalnya, seorang guru yang melihat siswanya ramai, siswa tersebut diingatkan, jika masih tetap ramai, guru menghukum siswa untuk menyanyi di depan kelas.
3. Motivasi
Motivasi fisiologis merupakan apa
yang oleh Guthrie dikatakan maintaining stimuli (stimuli yang
mempertahankan) yang menjaga organisme tetap aktif sampai tujuan tercapai.
Misalnya, rasa lapar menghasilkan stimuli internal yang terus ada sampai
makanan dikonsumsi. Ketika makan diperoleh, maintaining stimuli akan
hilang, dan karenanya kondisi yang menstimulasi telah berubah. Misalnya,
seorang siswa yang mendapat nilai jelek saat ulangan, guru tidak boleh
memarahinya. Menurut Guthrie, guru seharusnya memberi dorongan agar siswa
tersebut lebih rajin belajar.
4. Niat
Respons yang dikondisikan ke maintaining stimuli dinamakan intentions (niat). Respons tersebut dinamakan niat karena maintaining stimuli dari dorongan biasanya berlangsung selama periode waktu tertentu (sampai dorongan berkurang).Gambarannya, ketika seorang siswa sudah paham dengan materi yang disampaikan oleh guru maka dia akan langsung mengerjakan soal yang diberikan. Tetapi jika dia belum paham maka dia akan mengacungkan tangan untuk bertanya kepada guru mengenai materi yang belum dipahaminya. Perilaku yang dipicu oleh maintaining stimuli inilah yang tampak purposive atau intensional (diniatkan).
Respons yang dikondisikan ke maintaining stimuli dinamakan intentions (niat). Respons tersebut dinamakan niat karena maintaining stimuli dari dorongan biasanya berlangsung selama periode waktu tertentu (sampai dorongan berkurang).Gambarannya, ketika seorang siswa sudah paham dengan materi yang disampaikan oleh guru maka dia akan langsung mengerjakan soal yang diberikan. Tetapi jika dia belum paham maka dia akan mengacungkan tangan untuk bertanya kepada guru mengenai materi yang belum dipahaminya. Perilaku yang dipicu oleh maintaining stimuli inilah yang tampak purposive atau intensional (diniatkan).
5. Transfer Training
Guthrie dalam hal ini kurang
terlalu berharap. Karena pada dasarnya seseorang akan menunjukkan respons yang
sesuai dengan stimuli jika pada kondisi yang sama. Guthrie selalu mengatakan
pada mahasiswa universitasnya, jika anda ingin mendapat manfaat terbesar dari
studi anda, anda harus berlatih dalam situasi yang persis sama-dalam kursi yang
sama-di mana anda akan diuji. Jika anda belajar sesuatu di kamar, tidak ada
jaminan pengetahuan yang diperoleh disitu akan ditransfer ke kelas.Saran
Guthrie adalah selalu mempraktikkan perilaku yang persis sama yang akan diminta
kita lakukan nanti, selain itu, kita harus melatihnya dalam kondisi yang persis
sama dengan kondisi ketika nanti kita diuji. Gagasan mengenai pemahaman,
wawasan dan pemikiran hanya sedikit, atau tidak ada maknanya bagi Guthrie.
Satu-satunya hukum belajar adalah hukum kontiguitas, yang menyatakan bahwa
ketika dua kejadian terjadi bersamaan, keduanya akan dipelajari.
B. Beberapa metode dipergunakan
Guthrie dalam mengubah tingkah laku, ialah:
a)
Metode Reaksi Berlawanan (Incompatible Response Method)
Metode ini menganggap manusia
adalah suatu organisme yang selalu mereaksi kepada stimulus-stimulus tertentu.
Jika suatu reaksi terhadap stimulus tertentu telah menjadi kebiasaan, maka cara
untuk mengubahnya adalah dengan cara menghubungkan stimulus dengan reaksi yang
berlawanan dengan reaksi yang hendak dihilangkan.
Misalnya seorang murid yang
merasa ketakutan saat disuruh gurunya maju untuk mengerjakan soal di papan
tulis, untuk menghilangkan perasaan takut siswa tersebut, guru bisa menyuruh
siswa maju terus menerus tiap ada soal yang hendak dikerjakan di papan tulis.
b)
Metode Membosankan (Exhaustion Method)
Hubungan antara stimulus dan
reaksi yang buruk itu dibiarkan saja sampai pelakunya merasa bosan.
Sebagai contoh, misalnya seorang
siswa yang suka membuat catatan kecil untuk mencontek, maka untuk menghentikan
perilaku buruk itu, seorang guru bisa menyuruh siswa tersebut membuat catatan
berlembar-lembar secara terus menerus sehingga ia akan bosan dengan sendirinya.
Contoh lain, seorang siswa yang suka mengobrol dengan temannya ketika pelajaran
berlangsung, guru dapat memberi efek jera pada siswa tersebut dengan menyuruh
siswa tersebut berbicara selama 1 jam pelajaran sehingga siswa tersebut akan
bosan dan berhenti dengan sendirinya.
c)
Metode Mengubah Lingkungan (Change of EnvironmentMethod)
Suatu metode yang dilakukan
dengan jalan memutuskan atau memisahkan hubungan antara Stimulus (S) dan Reaksi
(R) yang buruk yang akan dihilangkan, yakni dengan mengubah stimulusnya.
Sebagai contoh, misalnya kita
akan mengubah tingkah laku/ kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakukan seorang
anak di sekolahnya, dengan memindahkan anak itu ke sekolah lain. Contoh lain,
seorang siswa yang suka ramai di belakang kelas, untuk menghentikan kebiasaan
ramai siswa tersebut, guru dapat memindahkan tempat duduknya ke baris depan.
C. Pendapat Guthrie Tentang Pendidikan
Seperti halnya Thorndike, Guthrie menyarankan proses pendidikan dimulai
dengan menyatakan tujuan, yakni menyatakan respons apa yang harus dibuat untuk
stimuli. Dia menyarankan lingkungan belajar yang akan memunculkan respons yang
diinginkan bersama dengan adanya stimuli yang akan diletakkan padanya. Jadi
motivasi dianggap tidak terlalu penting, yang diperlukan adalah siswa mesti
merespons dengan tepat dalam kehadiran stimuli tertentu.Latihan (praktik)
adalah penting karena ia menimbulkan lebih banyak stimuli untuk menghasilkan
perilaku yang diinginkan.karena setiap pengalaman adalah unik, seseorang harus
“belajar ulang” berkali-kali. Guthtrie mengatakan bahwa belajar 2 ditambah 2 di
papan tulis tidak menjamin siswa bisa 2 ditambah 2 ketika dibangku. Karena
memungkinkan siswa akan belajar meletakkan respons pada setiap stimuli (di
dalam atau di luar kelas).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar