Kamis, 19 Desember 2013

AUTIS


I.            PENGERTIAN AUTIS
Autistik bukan merupakan penyakit, tetapi merupakan sindrom atau kumpulan gejala yang ditandai dengan penyimpangan perkembangan sosial, kemampuan berbahasa, dan rendahnya kepedulian terhadap lingkungan disekitarnya sehingga anak autis hidup dalam dunianya sendiri. (Handojo, 2003)
Mark Durrand dan David H. Barlow (2007) mengatakan bahwa autistik adalah gangguan pada masa kanak-kanak yang ditandai adanya hendaya (ketidakmampuan) yang signifikan pada interaksi sosial, komunikasi dan pola-pola perilaku, interes, dan aktivitas yang sangat terbatas.
Linda C. Copel (2007) mengatakan bahwa autistik adalah gangguan perkembangan pervasif pada masa kanak-kanak yang dimanifestasikan dengan kerusakan hebat dalam interaksi sosial dan imajinatif.

II.         GAMBARAN KLINIS AUTISTIK
a.         Usia 0-6 Bulan
Bayi tampak tenang atau hipersensitif sehingga mudah terusik, gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama saat mandi, tidak ditemukan senyum sosial hingga usia 10 minggu, tidak ada kontak mata, terutama usia 3 bulan dan perkembangan motorik sangat kasar dan tidak tenang.
b.        Usia 6-12 Bulan
Bayi akan sulit digendong, menggigit tangan dan badan orang lain secara ekstrim, tidak ditemukan senyum, tidak ada kontak mata dan perkembangan motorik tampak abnormal.
c.         Usia 12-24 Bulan
Ciri-ciri autis anak pada usia ini terlihat dari perilaku kaku saat digendong, tidak mau bermain pada permainan sederhana (ci luk ba) jika perempuan tidak tertarik pada boneka.
d.        Usia 2-3 Tahun
Ciri pada usia ini antara lain kaku jika digendong, melihat orang lain sebagai benda, tidak tertarik untuk bersosialisasi, kontak mata yang sangat terbatas dan hanya tertarik pada benda-benda tertentu.
e.         Usia 4-5 Tahun
Pada usia 4-5 tahun, anak autis sering membeo (mengucapkan kata-kata yang dirinya sendiri tidak tahu maknanya. Marah jika rutinitasnya terganggu, tidak tertarik untuk bermain pada temn sebayanya, suka menyakiti dirinya sendiri seperti membenturkan kepala ke tembok.
CIRI-CIRI AUTISTIK MENURUT DSM-IV
a.       Hendaya Dalam Interaksi Sosial
Menurut hasil penelitian dari Klin jones, Volkmar, dan Cohen (2002) menemukan bahwa hendaya dalam interaksi sosial anak autis ditandai dengan ketidaktertarikan pada situasi sosial sehingga mereka sulit menikmati hubungan dengan orang lain. Menurut Mark Durand dan David H. Barlow (2007) bahwa hendaya interaksi sosial anak autis tampak pada perilaku non verbal, seperti ketidakmampuan memandang satu mata ke mata lain, tidak mampu menampilkan ekspresi wajah, gerakan postur tubuh yang tidak lazim dan kesulitan dalam mengembangkan relasi dengan teman-teman sebaya, tidak adanya minat untuk berbagi kegembiraan atau konsentrasi dengan orang lain dan tidak adanya relasi yang emosional dan timbal balik.
b.      Hendaya Dalam Komunikasi
Menurut pandangan Mark dan David H. Barlow (2007) bahwa ciri-ciri hendaya komunikasi anak autis ditandai dengan keterlambaatan dalam perkembangan bahasa lisan, hendaya memulai ataupun mempertahankan percakapan dengan orang lain, selalu menggunakan bahasa stereotype, retitif, dan idiosinkrasi, ketidakmampuan melakukan permainan peran dan senang meniru sesuai dengan tingkat perkembangannya.
c.       Hendaya Dalam Perilaku, Minat dan Aktivitas
Anak autis akan marah besar jika mengalami perubahan rutinitas, misalnya kamar atau benda-benda lainnya dipindahkan ke tempat lain. Penderita autis sering menghabiskan waktunya berjam-jam melakukan pekerjaan yang stereotyped and ritualistic behavior dan melakukan gerakan stereotype, seperti berputar-putar membentuk lingkaran, melambai-lambai tangan, menggeleng-gelengkan kepala, menggigit-gigit jari tau tangannya.

III.       FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB AUTIS
Penemuan faktor penyebab autis hingga kini belum pasti. Masih banyak pertentangan antara para ahli. Namun, beberapa ahli telah menilai bahwa faktor penyebab autis bersifat multifaktor, yaitu faktor biologis, faktor psikologis dan faktor sosial.
A.      Faktor Biologis
·      Faktor Genetik
Penelitian Cook (2001) menemukan bahwa gangguan autis memiliki komponen genetik dari keluarga yang memiliki anak autis yang berkisar antara 3-5%. Hasil penelitian pada anak kembar ternyata ditemukkan bahwa adanya kesesuaian gen gangguan autis pada anak kembar monozigotik dengan angka kontribusi diperkirakan sekitar 36% (Kaplan, dkk., 1997).
·      Faktor Neurobiologis
Autis berhubungan dengan bentuk kerusakan organik (otak). Penderita autis memiliki kecenderungan retardasi mental sehingga memperlihatkan abnormalitas neurobiologis, seperti kekakuan gerakan tubuh dan cara berjalan yang abnormal. Melalui teknologi brain imaging peneliti menemukan bahwa ada gambaran yang jelas mengenai adanya disfungsi neurobiologis.  Para ahli menemukan adanya abnormalitas cerebellum. Penelitian ini diperkuat oleh penelitian Courchesne (1991) yang menemukan adanya keterkaitan abnormalitas otak bagian cerebellum terhadap pembentukan gangguan autistik.
·      Faktor Kelahiran
Pendarahan selama masa kehamilan sering bersumber dari placenta complication yang menyebabkan gangguan transportasi oksigen dan nutrisi ke janin yang menyebabkan gangguan peekembangan otak.
·      Faktor Imunologis dan Bahan Kimia
Beberapa penelitian telah menemukan bahwa inkompabilitas ilmunologis ibu dan embrio dapat menyebabkan timbulnya gangguan autistik. Hal ini terlihat dari limposit beberapa anak autis bereaksi dengan antibody maternal yang meningkatkan neural embrionik dan ekstra embrionik. Bahan kimia yang harus diwaspadai adalah jenis polyhorinated Biplenyis dan pestisida organofos.
·      Faktor Virus
Jenis-jenis virus yang dapat memicu autis adalah virus herpes, eptern bass, dan human herpes virus. Virus ini dapat menyebabkan kejang-kejang sebagai salah satu karakteristik spektrum autistik.
·      Faktor Vaksinasi
Pemberian vaksin hepatitis B dan MMR (mumps, measles and Rubella) yang terlalu banyak bisa berakibat dalam pembentukan autistik.
B.       Faktor Psikologis Dan Keluarga
·      Faktor Psikologis
Faktor psikologis yang dapat menyebabkan gangguan autis adalah ketidaksadaran dan ketidak pahaman akan eksistensi diri sebenarnya berbeda dengan orang lain, tidak mempunyai kepercayaan diri pada kekuatan dan potensinya.


·         Faktor keluarga
Belum ada bukti yang signifikan yang mengatakan bahwa keluarga yang menyimpang atau kumpulan faktor psikodinamika yang dapat menyebabkan terjadinya perkembangan dan pembentukan autistik. Akan tetapi, pada anak autis memiliki respon stresor psikososial seperti kelahiran adik baru atau baru pindah rumah.
Jenis-jenis terapi
a.       Terapi okupasi
Terapi okupasi menekankan pada usaha penguatan otot-otot anggota tubuh, yakni penguatan, memperbaiki sistem koordinasi gerakan, dan pengembangan keterampilan otot-otot tubuh.
b.      Terapi Wicara
Speech therapy merupakan salah satu metode meningkatkan bicara pada anak autis. Penatalaksanaan memakai analisis ABA (Applied Behavior Analyziz). Jenis terapi wicara lainnya antara lain DDT, LEP, option therapy, TEAHC.
c.       Sosialisasi Reduksi Perilaku Tidak Wajar
Metode ini di mulai dengan kepatuhan kontak mata, pengenalan konsep kognitif dengan pola bahasa reseptik dan ekspresif. Setelah itu anak diajarkan untuk berperilaku sesuai tata krama.
d.      Terapi Biomedik
Pemberian obat-obatan terhadap anak autis. Tujuan dari terapi ini yaitu mengurangi rasa ansietas, agitasi psikomotorik berat dan kepekaan yang ekstrim pada stimulasi lingkungan. Jenis obat yang digunakan adalah antipsikotik, stimulan sistem syaraf dan anti depresan.
e.       Terapi Lingkungan Sosial
Terapi ini lebih menekankan pada pemberian stimulasi pengalaman yang biasa terjadi pada kehidupan sehari-hari secara berulang-ulang dan mempertahankan jadwal perawatan dan aktifitas bermainnya secara konsisten.

f.       Terapi Bermain
Terapi ini dimaksudkan agar anak dapat berinterakasi sosial dengan teman-temannya danmengungkapkan emosinya. Dia harus siap diperlakukan penuh kasih sayang tak bersyarat, penuh perhatian, sikap penerimaan, dan penghargaan.
g.      Fisioterapi
Terapi ini merangsang perkembangan dan kontrol tubuh anak.
h.      Terapi Psikologis
Terapi ini diberikan kepada anak autis dalam usaha meningkatkan kemampuan bahasa, self-help, perilaku, sosial, dan mengurangi perilaku aneh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar