I.
PENGERTIAN AUTIS
Autistik bukan merupakan penyakit, tetapi merupakan
sindrom atau kumpulan gejala yang ditandai dengan penyimpangan perkembangan
sosial, kemampuan berbahasa, dan rendahnya kepedulian terhadap lingkungan
disekitarnya sehingga anak autis hidup dalam dunianya sendiri. (Handojo, 2003)
Mark Durrand dan David H. Barlow (2007) mengatakan
bahwa autistik adalah gangguan pada masa kanak-kanak yang ditandai adanya
hendaya (ketidakmampuan) yang signifikan pada interaksi sosial, komunikasi dan
pola-pola perilaku, interes, dan aktivitas yang sangat terbatas.
Linda C. Copel (2007) mengatakan bahwa autistik
adalah gangguan perkembangan pervasif pada masa kanak-kanak yang
dimanifestasikan dengan kerusakan hebat dalam interaksi sosial dan imajinatif.
II.
GAMBARAN KLINIS
AUTISTIK
a.
Usia 0-6 Bulan
Bayi tampak
tenang atau hipersensitif sehingga mudah terusik, gerakan tangan dan kaki
berlebihan terutama saat mandi, tidak ditemukan senyum sosial hingga usia 10
minggu, tidak ada kontak mata, terutama usia 3 bulan dan perkembangan motorik
sangat kasar dan tidak tenang.
b.
Usia 6-12 Bulan
Bayi akan sulit
digendong, menggigit tangan dan badan orang lain secara ekstrim, tidak
ditemukan senyum, tidak ada kontak mata dan perkembangan motorik tampak
abnormal.
c.
Usia 12-24 Bulan
Ciri-ciri autis
anak pada usia ini terlihat dari perilaku kaku saat digendong, tidak mau
bermain pada permainan sederhana (ci luk
ba) jika perempuan tidak tertarik pada boneka.
d.
Usia 2-3 Tahun
Ciri pada usia
ini antara lain kaku jika digendong, melihat orang lain sebagai benda, tidak
tertarik untuk bersosialisasi, kontak mata yang sangat terbatas dan hanya
tertarik pada benda-benda tertentu.
e.
Usia 4-5 Tahun
Pada usia 4-5
tahun, anak autis sering membeo (mengucapkan kata-kata yang dirinya sendiri
tidak tahu maknanya. Marah jika rutinitasnya terganggu, tidak tertarik untuk
bermain pada temn sebayanya, suka menyakiti dirinya sendiri seperti
membenturkan kepala ke tembok.
CIRI-CIRI AUTISTIK MENURUT DSM-IV
a.
Hendaya Dalam
Interaksi Sosial
Menurut hasil
penelitian dari Klin jones, Volkmar, dan Cohen (2002) menemukan bahwa hendaya
dalam interaksi sosial anak autis ditandai dengan ketidaktertarikan pada
situasi sosial sehingga mereka sulit menikmati hubungan dengan orang lain.
Menurut Mark Durand dan David H. Barlow (2007) bahwa hendaya interaksi sosial
anak autis tampak pada perilaku non verbal, seperti ketidakmampuan memandang
satu mata ke mata lain, tidak mampu menampilkan ekspresi wajah, gerakan postur
tubuh yang tidak lazim dan kesulitan dalam mengembangkan relasi dengan
teman-teman sebaya, tidak adanya minat untuk berbagi kegembiraan atau
konsentrasi dengan orang lain dan tidak adanya relasi yang emosional dan timbal
balik.
b.
Hendaya Dalam
Komunikasi
Menurut
pandangan Mark dan David H. Barlow (2007) bahwa ciri-ciri hendaya komunikasi
anak autis ditandai dengan keterlambaatan dalam perkembangan bahasa lisan,
hendaya memulai ataupun mempertahankan percakapan dengan orang lain, selalu
menggunakan bahasa stereotype, retitif, dan idiosinkrasi, ketidakmampuan
melakukan permainan peran dan senang meniru sesuai dengan tingkat
perkembangannya.
c.
Hendaya Dalam
Perilaku, Minat dan Aktivitas
Anak autis akan
marah besar jika mengalami perubahan rutinitas, misalnya kamar atau benda-benda
lainnya dipindahkan ke tempat lain. Penderita autis sering menghabiskan
waktunya berjam-jam melakukan pekerjaan yang stereotyped and ritualistic behavior
dan melakukan gerakan stereotype, seperti berputar-putar membentuk
lingkaran, melambai-lambai tangan, menggeleng-gelengkan kepala, menggigit-gigit
jari tau tangannya.
III. FAKTOR-FAKTOR
PENYEBAB AUTIS
Penemuan
faktor penyebab autis hingga kini belum pasti. Masih banyak pertentangan antara
para ahli. Namun, beberapa ahli telah menilai bahwa faktor penyebab autis
bersifat multifaktor, yaitu faktor biologis, faktor psikologis dan faktor
sosial.
A.
Faktor Biologis
·
Faktor Genetik
Penelitian
Cook (2001) menemukan bahwa gangguan autis memiliki komponen genetik dari
keluarga yang memiliki anak autis yang berkisar antara 3-5%. Hasil penelitian
pada anak kembar ternyata ditemukkan bahwa adanya kesesuaian gen gangguan autis
pada anak kembar monozigotik dengan angka kontribusi diperkirakan sekitar 36%
(Kaplan, dkk., 1997).
·
Faktor
Neurobiologis
Autis
berhubungan dengan bentuk kerusakan organik (otak). Penderita autis memiliki
kecenderungan retardasi mental sehingga memperlihatkan abnormalitas
neurobiologis, seperti kekakuan gerakan tubuh dan cara berjalan yang abnormal.
Melalui teknologi brain imaging peneliti
menemukan bahwa ada gambaran yang jelas mengenai adanya disfungsi neurobiologis. Para ahli menemukan adanya abnormalitas
cerebellum. Penelitian ini diperkuat oleh penelitian Courchesne (1991) yang
menemukan adanya keterkaitan abnormalitas otak bagian cerebellum terhadap
pembentukan gangguan autistik.
·
Faktor Kelahiran
Pendarahan
selama masa kehamilan sering bersumber dari placenta complication yang
menyebabkan gangguan transportasi oksigen dan nutrisi ke janin yang menyebabkan
gangguan peekembangan otak.
·
Faktor
Imunologis dan Bahan Kimia
Beberapa
penelitian telah menemukan bahwa inkompabilitas
ilmunologis ibu dan embrio dapat menyebabkan timbulnya gangguan autistik.
Hal ini terlihat dari limposit
beberapa anak autis bereaksi dengan antibody
maternal yang meningkatkan neural
embrionik dan ekstra embrionik. Bahan
kimia yang harus diwaspadai adalah jenis polyhorinated
Biplenyis dan pestisida organofos.
·
Faktor Virus
Jenis-jenis
virus yang dapat memicu autis adalah virus herpes, eptern bass, dan human
herpes virus. Virus ini dapat menyebabkan kejang-kejang sebagai salah satu
karakteristik spektrum autistik.
·
Faktor Vaksinasi
Pemberian
vaksin hepatitis B dan MMR (mumps, measles and Rubella) yang terlalu banyak
bisa berakibat dalam pembentukan autistik.
B.
Faktor Psikologis
Dan Keluarga
·
Faktor
Psikologis
Faktor
psikologis yang dapat menyebabkan gangguan autis adalah ketidaksadaran dan
ketidak pahaman akan eksistensi diri sebenarnya berbeda dengan orang lain,
tidak mempunyai kepercayaan diri pada kekuatan dan potensinya.
·
Faktor keluarga
Belum
ada bukti yang signifikan yang mengatakan bahwa keluarga yang menyimpang atau
kumpulan faktor psikodinamika yang dapat menyebabkan terjadinya perkembangan
dan pembentukan autistik. Akan tetapi, pada anak autis memiliki respon stresor
psikososial seperti kelahiran adik baru atau baru pindah rumah.
Jenis-jenis
terapi
a.
Terapi okupasi
Terapi okupasi menekankan pada usaha penguatan
otot-otot anggota tubuh, yakni penguatan, memperbaiki sistem koordinasi
gerakan, dan pengembangan keterampilan otot-otot tubuh.
b.
Terapi Wicara
Speech therapy merupakan salah satu metode
meningkatkan bicara pada anak autis. Penatalaksanaan memakai analisis ABA
(Applied Behavior Analyziz). Jenis terapi wicara lainnya antara lain DDT, LEP, option
therapy, TEAHC.
c.
Sosialisasi Reduksi
Perilaku Tidak Wajar
Metode ini di mulai dengan kepatuhan kontak mata,
pengenalan konsep kognitif dengan pola bahasa reseptik dan ekspresif. Setelah
itu anak diajarkan untuk berperilaku sesuai tata krama.
d.
Terapi Biomedik
Pemberian obat-obatan terhadap anak autis. Tujuan
dari terapi ini yaitu mengurangi rasa ansietas, agitasi psikomotorik berat dan
kepekaan yang ekstrim pada stimulasi lingkungan. Jenis obat yang digunakan
adalah antipsikotik, stimulan sistem syaraf dan anti depresan.
e.
Terapi
Lingkungan Sosial
Terapi ini lebih menekankan pada pemberian stimulasi
pengalaman yang biasa terjadi pada kehidupan sehari-hari secara berulang-ulang
dan mempertahankan jadwal perawatan dan aktifitas bermainnya secara konsisten.
f.
Terapi Bermain
Terapi ini dimaksudkan agar anak dapat berinterakasi
sosial dengan teman-temannya danmengungkapkan emosinya. Dia harus siap
diperlakukan penuh kasih sayang tak bersyarat, penuh perhatian, sikap
penerimaan, dan penghargaan.
g.
Fisioterapi
Terapi ini merangsang perkembangan dan kontrol tubuh
anak.
h.
Terapi Psikologis
Terapi ini diberikan kepada anak autis dalam usaha
meningkatkan kemampuan bahasa, self-help,
perilaku, sosial, dan mengurangi perilaku aneh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar