Jumat, 20 Desember 2013

INSOMNIA


A.   Pengertian Insomnia
Insomnia merupakan kesulitan untuk tidur, tetap tidur, atau mencapai tidur yang restoratif. Insomnia dapat muncul sewaktu-waktu terutama pada saat kita mengalami stres. Insomnia yang terus menerus dan memiliki karakteristik kesulitan berulang untuk tidur atau untuk tetap tidur adalah pola perilaku yang abnormal. Insomnis kronis yang bertahan selama satu bulan atau lebih biasanya merupakan tanda dari masalah fisik atau gangguan psikologis, seperti depresi. Insomnia kronis yang tidak disebabkan oleh gangguan psikologis atau fisik lainnya atau oleh pengobatan dikelompokkan dalam gangguan tidur yang disebut insomnia primer. Insomnia primer mengakibatkan rasa lelah di siang hari dan menyebabkan timbulnya stres pribadi yang signifikan. Orang-orang yang terganggu dengan insomnia primer, cenderung membawa kecemasan dan kekhawatiran mereka ke tempat tidur, yang akan meningkatkan kesadaran tubuh sampai pada tahap yang mencegah tidur secara alami.
Dalam PPDGJ III insomnia termasuk dalam gangguan dyssomnia yaitu kondisi psikogenik primer dimana gangguan utamanya adalah jumlah, kualitas atau waktu tidur yang disebabkan oleh hal-hal emosional.

B.   Faktor yang Menyebabkan Insomnia
-          Efek pengobatan
-          Faktor psikologis, misalnya depresi dan kecemasan.

C.   Pedoman Diagnostik Insomnia
Pedoman diagnostik insomnia dalam PPDGJ III (Maslim, 2001) adalah sebagai berikut:
-          Hal tersebut di bawah ini diperlukan untuk menbuat diagnosis pasti:
a.    Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur atau kualitas tidur yang buruk.
b.    Gangguan terjadi minimal 3 kali dalam satu minggu selama minimal satu bulan.
c.    Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur (sleepless-ness) dan peduli yang berlebihan terhadap akibatnya kepada malam hari dan sepanjang siang hari.
d.    Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan.
-          Adanya gejala gangguan jiwa seperti depresi, anxietas, atau obsesi tidak menyebabkan diagnosis insomnia diabaikan. Semua ko-morbiditas harus dicantumkan kerena membutuhkan terapi tersendiri.
-          Kriteria “lama tidur” (kuantitas) tidak digunakan untuk menentukan adanya gangguan, oleh karena luasnya variasi individual. Lama gangguan yang tidak memenuhi kriteria di atas (seperti pada “transient insomnia” ) tidak didiagnosis disini, dapat dimasukkan dalam Reaksi Stres Akut (F43.0) atau ganggua penyesuaian (F43.2).

Kamis, 19 Desember 2013

Contiguous Conditioning (Pembiasaan Asosiasi Dekat)


I.                   Contiguous Conditioning (Pembiasaan Asosiasi Dekat)
Teori belajar pembiasaan asosiasi dekat (Contiguous conditioning) adalah sebuah teori yang mengasumsikan terjadinya peristiwa belajar berdasarkan yang mengasumsikan terjadinya peristiwa peristiwa belajar berdasarkan kedekatan hubungan antara stimulus dengan respon yang relevan . contiguous Conditioning sering disebut sebagai teori belajar istemewa karna paling sederhana dan efisien , karna didalamnya hanya terdapat satu prinsip ,yaitu kontiguitas (contiguity) yaitu kedekatan antara stimulus dan respon. Dalam teori ini apa yang sesungguhnya dipelajari orang, misalnya seseorang siswa, adalah reaksi atau respon terakhir yang muncul atas sebuah rangasangan atau stimulus. Yang berarti setiap peristiwa belajar hanya mungkin terjadi sekali saja untuk selamanya atau sama sekali tak terjadi (Reber,1989:153). Perbandingan penemu teori tersebut yakni Edwin R. Guthrie(1886-1959), peningkatan berangsur-angsur kinerja hasil dari pelbagirespons komples terhadap stimulus –stimulus sebagaimana yang diyakini para behavioris lainnya ,melainkan karena dekatnya asosiasi antara stimulus dengan respon yang diperlukan. Dalam kehidupan sehari-hari kita menemui proses pembelajaran ini seperti contoh sederhana
2+2 maka hasilnya 4 , mengasosiasikan kewajiban di bulan ramadhan dengan puasa, dan mengasosiasikan  17 Agustus sebagai hari kemerdekaan Indonesia. Belajar seperti ini disebut belajar dengan kontiguitas sederhana seperti asosiasi-asosiasi tersebut dapat terjadi misalnya dengan menyajikan stimulus-stimulus berikut
Dua ditambah dua sama dengan…..
Kewajiban di bulan Ramadhan adalah…..
Tanggal 17 Agustus adalah……
Dan pasti jawaban mereka empat,puasa, dan hari kemerdekaan. Ini menujukan adanya peristiwa dalam belajar dalam diri para siswa tersebut.
Perlu dicatat dalam teori contiguous conditioning sebagai slaah satu cabang mahzab behavioristik itu tak dapat diterima begitu saja terutama mengigant kecenderungan yang serba mekanis dan otomatis seperti robot dan mesin. Padahal,dalam kebanyakan proses belajar yang dialamai manusia , peranan insight ,”tilikan akal” dan informasi prosesing “ tahapan pengolahan informasi” baik disadari atau tidak selalu terjadi dalam diri setiap siswa yang sedang mengalami peristiw belajar. Sehubungan dengan ini , Hilgard dan Bower(1975:121) menyatakan bahwa meskipun kepercayaan terhadap teori Contiguous Conditioning akan berlanjut terus namun teori tersebut sebenarnya telah kehilangan daya tarik bagi generasi penerus ahli psikologi belajar seiring dengan munculnya dan populernya psikologi kognitif.
Yang dimaksud dengan asosiasi ialah hubungan antara tanggapan yang satu dengan reproduksi adalah kemampuan jiwa untuk mengeluarkan kembali tanggapan dalam hal kesadaran. Disamping itu ada juga jenis-jenis reproduksi yaitu:
1.      Menurut yang menimbulkan
-       Reproduksi dengan perantara artinya timbulnya akibat adanya perangsangan dari luar
-       Reproduksi tanpa perantara yaitu datang dengan sendirinya
2.      Menurut cara timbulnya
-       Reproduksi terikat yaitu reproduksi yang timbul dengan sengaja
-       Reproduksi bebas yaitu reproduksi yang timbulnya tidak disengaja dan timbulnya timbulnya itu bersift apa adanya.

II.                Teory Belajar Menurut Edwin R. Guthrie(1886-1959),
Menurut teori contiguous conditioning, belajar itu adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (respons). Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan-deretan tingkah laku yang terdiri dari unit-unit. Unit-unit tingkah laku ini merupakan reaksi dari stimulus sebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi stimulus untuk tingkah laku yang berikutnya. Demikianlah seterusnya sehingga membentuk deretan-deretan tingkah laku yang terus menerus. Jadi pada proses conditioning ini terjadi asosiasi antara unit-unit tingkah laku secara berurutan.
Guthrie menegaskan dengan hukumnya yaitu “The Law of Association”, yang berbunyi : “A combination of stimuli which has accompanied a movement will on its recurrence tend to be followed by that movement” (Guthrie, 1952 :13). Secara sederhana dapat diartikan bahwa gabungan atau kombinasi suatu kelas stimuli yang menyertai atau mengikuti suatu gerakan tertentu, maka ada kecenderungan bahwa gerakan itu akan diulangi lagi pada situasi/stimuli yang sama. Teori behaviorisme yang menekankan adanya hubungan antara stimulus (S) dengan respons (R) secara umum dapat dikatakan memiliki arti yang penting bagi siswa untuk meraih keberhasilan belajar. Caranya, guru banyak memberikan stimulus dalam proses pembelajaran, dan dengan cara ini siswa akan merespons secara positif apa lagi jika diikuti dengan adanya reward yang berfungsi sebagai reinforcement (penguatan terhadap respons yang telah ditunjukkan).
Pandangan Guthrie tentang Motivasi, Lupa, Hukuman, Niat, Transfer Training sebagai berikut:
1.      Lupa
Menurut Guthrie, lupa disebabkan oleh munculnya respons alternatif dalam satu pola stimulus. Setelah pola stimulus menghasilkan respons alternatif, pola stimulus itu kemudian akan cenderung menghasilkan respons baru. Jadi menurut Guthrie, lupa pasti melibatkan proses belajar baru. Contohnya sebagai berikut: Seseorang yang belajar tugas A dan kemudian belajar tugas B lalu diuji untuk tugas A. satu orang lainnya belajar tugas A, tetapi tidak belajar tugas B, dan kemudian diuji pada tugas A. secara umum akan ditemukan bahwa orang pertama mengingat tugas A lebih sedikit ketimbang orang kedua. Jadi, tampak bahwa mempelajari hal baru (tugas B) telah mencampuri retensi dari apa yang dipelajari sebelumnya (tugas A). Pendapatnya adalah bahwa setiap kali mempelajari hal yang baru, maka proses itu akan menghambat sesuatu yang lama. Dengan kata lain, lupa disebabkan oleh intervensi. Tak ada intervensi, maka lupa tidak akan terjadi.
2.     Hukuman
Guthrie mengatakan efektivitas punishment (hukuman) ditentukan oleh apa penyebab tindakan yang dilakukan oleh organisme yang dihukum itu. Hukuman bekerja baik bukan karena rasa sakit yang dialami oleh individu terhukum, tetapi karena hukuman mengubah cara individu merespons stimuli tertentu. Hukuman akan efektif jika menghasilkan respons baru terhadap stimuli yang sama.Hukuman berhasil mengubah perilaku yang tidak diinginkan karena hukuman menimbulkan perilaku yang tidak kompatibel dengan perilaku yang dihukum. Hukuman akan gagal jika perilaku yang disebabkan oleh hukuman selaras dengan perilaku yang dihukum. Misalnya, seorang guru yang melihat siswanya ramai, siswa tersebut diingatkan, jika masih tetap ramai, guru menghukum siswa untuk menyanyi di depan kelas.
3.      Motivasi
Motivasi fisiologis merupakan apa yang oleh Guthrie dikatakan maintaining stimuli (stimuli yang mempertahankan) yang menjaga organisme tetap aktif sampai tujuan tercapai. Misalnya, rasa lapar menghasilkan stimuli internal yang terus ada sampai makanan dikonsumsi. Ketika makan diperoleh, maintaining stimuli akan hilang, dan karenanya kondisi yang menstimulasi telah berubah. Misalnya, seorang siswa yang mendapat nilai jelek saat ulangan, guru tidak boleh memarahinya. Menurut Guthrie, guru seharusnya memberi dorongan agar siswa tersebut lebih rajin belajar.
4.     Niat
Respons yang dikondisikan ke maintaining stimuli dinamakan intentions (niat). Respons tersebut dinamakan niat karena maintaining stimuli dari dorongan biasanya berlangsung selama periode waktu tertentu (sampai dorongan berkurang).Gambarannya, ketika seorang siswa sudah paham dengan materi yang disampaikan oleh guru maka dia akan langsung mengerjakan soal yang diberikan. Tetapi jika dia belum paham maka dia akan mengacungkan tangan untuk bertanya kepada guru mengenai materi yang belum dipahaminya. Perilaku yang dipicu oleh maintaining stimuli inilah yang tampak purposive atau intensional (diniatkan).
5.      Transfer Training
Guthrie dalam hal ini kurang terlalu berharap. Karena pada dasarnya seseorang akan menunjukkan respons yang sesuai dengan stimuli jika pada kondisi yang sama. Guthrie selalu mengatakan pada mahasiswa universitasnya, jika anda ingin mendapat manfaat terbesar dari studi anda, anda harus berlatih dalam situasi yang persis sama-dalam kursi yang sama-di mana anda akan diuji. Jika anda belajar sesuatu di kamar, tidak ada jaminan pengetahuan yang diperoleh disitu akan ditransfer ke kelas.Saran Guthrie adalah selalu mempraktikkan perilaku yang persis sama yang akan diminta kita lakukan nanti, selain itu, kita harus melatihnya dalam kondisi yang persis sama dengan kondisi ketika nanti kita diuji. Gagasan mengenai pemahaman, wawasan dan pemikiran hanya sedikit, atau tidak ada maknanya bagi Guthrie. Satu-satunya hukum belajar adalah hukum kontiguitas, yang menyatakan bahwa ketika dua kejadian terjadi bersamaan, keduanya akan dipelajari.
                                                                                                     
B.       Beberapa metode dipergunakan Guthrie dalam mengubah tingkah laku, ialah:
a)         Metode Reaksi Berlawanan (Incompatible Response Method)
Metode ini menganggap manusia adalah suatu organisme yang selalu mereaksi kepada stimulus-stimulus tertentu. Jika suatu reaksi terhadap stimulus tertentu telah menjadi kebiasaan, maka cara untuk mengubahnya adalah dengan cara menghubungkan stimulus dengan reaksi yang berlawanan dengan reaksi yang hendak dihilangkan.
Misalnya seorang murid yang merasa ketakutan saat disuruh gurunya maju untuk mengerjakan soal di papan tulis, untuk menghilangkan perasaan takut siswa tersebut, guru bisa menyuruh siswa maju terus menerus tiap ada soal yang hendak dikerjakan di papan tulis.
b)        Metode Membosankan (­Exhaustion Method)
Hubungan antara stimulus dan reaksi yang buruk itu dibiarkan saja sampai pelakunya merasa bosan.
Sebagai contoh, misalnya seorang siswa yang suka membuat catatan kecil untuk mencontek, maka untuk menghentikan perilaku buruk itu, seorang guru bisa menyuruh siswa tersebut membuat catatan berlembar-lembar secara terus menerus sehingga ia akan bosan dengan sendirinya. Contoh lain, seorang siswa yang suka mengobrol dengan temannya ketika pelajaran berlangsung, guru dapat memberi efek jera pada siswa tersebut dengan menyuruh siswa tersebut berbicara selama 1 jam pelajaran sehingga siswa tersebut akan bosan dan berhenti dengan sendirinya.
c)         Metode Mengubah Lingkungan (Change of EnvironmentMethod)
Suatu metode yang dilakukan dengan jalan memutuskan atau memisahkan hubungan antara Stimulus (S) dan Reaksi (R) yang buruk yang akan dihilangkan, yakni dengan mengubah stimulusnya.
Sebagai contoh, misalnya kita akan mengubah tingkah laku/ kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakukan seorang anak di sekolahnya, dengan memindahkan anak itu ke sekolah lain. Contoh lain, seorang siswa yang suka ramai di belakang kelas, untuk menghentikan kebiasaan ramai siswa tersebut, guru dapat memindahkan tempat duduknya ke baris depan.

C.      Pendapat Guthrie Tentang Pendidikan
Seperti halnya Thorndike, Guthrie menyarankan proses pendidikan dimulai dengan menyatakan tujuan, yakni menyatakan respons apa yang harus dibuat untuk stimuli. Dia menyarankan lingkungan belajar yang akan memunculkan respons yang diinginkan bersama dengan adanya stimuli yang akan diletakkan padanya. Jadi motivasi dianggap tidak terlalu penting, yang diperlukan adalah siswa mesti merespons dengan tepat dalam kehadiran stimuli tertentu.Latihan (praktik) adalah penting karena ia menimbulkan lebih banyak stimuli untuk menghasilkan perilaku yang diinginkan.karena setiap pengalaman adalah unik, seseorang harus “belajar ulang” berkali-kali. Guthtrie mengatakan bahwa belajar 2 ditambah 2 di papan tulis tidak menjamin siswa bisa 2 ditambah 2 ketika dibangku. Karena memungkinkan siswa akan belajar meletakkan respons pada setiap stimuli (di dalam atau di luar kelas).

AUTIS


I.            PENGERTIAN AUTIS
Autistik bukan merupakan penyakit, tetapi merupakan sindrom atau kumpulan gejala yang ditandai dengan penyimpangan perkembangan sosial, kemampuan berbahasa, dan rendahnya kepedulian terhadap lingkungan disekitarnya sehingga anak autis hidup dalam dunianya sendiri. (Handojo, 2003)
Mark Durrand dan David H. Barlow (2007) mengatakan bahwa autistik adalah gangguan pada masa kanak-kanak yang ditandai adanya hendaya (ketidakmampuan) yang signifikan pada interaksi sosial, komunikasi dan pola-pola perilaku, interes, dan aktivitas yang sangat terbatas.
Linda C. Copel (2007) mengatakan bahwa autistik adalah gangguan perkembangan pervasif pada masa kanak-kanak yang dimanifestasikan dengan kerusakan hebat dalam interaksi sosial dan imajinatif.

II.         GAMBARAN KLINIS AUTISTIK
a.         Usia 0-6 Bulan
Bayi tampak tenang atau hipersensitif sehingga mudah terusik, gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama saat mandi, tidak ditemukan senyum sosial hingga usia 10 minggu, tidak ada kontak mata, terutama usia 3 bulan dan perkembangan motorik sangat kasar dan tidak tenang.
b.        Usia 6-12 Bulan
Bayi akan sulit digendong, menggigit tangan dan badan orang lain secara ekstrim, tidak ditemukan senyum, tidak ada kontak mata dan perkembangan motorik tampak abnormal.
c.         Usia 12-24 Bulan
Ciri-ciri autis anak pada usia ini terlihat dari perilaku kaku saat digendong, tidak mau bermain pada permainan sederhana (ci luk ba) jika perempuan tidak tertarik pada boneka.
d.        Usia 2-3 Tahun
Ciri pada usia ini antara lain kaku jika digendong, melihat orang lain sebagai benda, tidak tertarik untuk bersosialisasi, kontak mata yang sangat terbatas dan hanya tertarik pada benda-benda tertentu.
e.         Usia 4-5 Tahun
Pada usia 4-5 tahun, anak autis sering membeo (mengucapkan kata-kata yang dirinya sendiri tidak tahu maknanya. Marah jika rutinitasnya terganggu, tidak tertarik untuk bermain pada temn sebayanya, suka menyakiti dirinya sendiri seperti membenturkan kepala ke tembok.
CIRI-CIRI AUTISTIK MENURUT DSM-IV
a.       Hendaya Dalam Interaksi Sosial
Menurut hasil penelitian dari Klin jones, Volkmar, dan Cohen (2002) menemukan bahwa hendaya dalam interaksi sosial anak autis ditandai dengan ketidaktertarikan pada situasi sosial sehingga mereka sulit menikmati hubungan dengan orang lain. Menurut Mark Durand dan David H. Barlow (2007) bahwa hendaya interaksi sosial anak autis tampak pada perilaku non verbal, seperti ketidakmampuan memandang satu mata ke mata lain, tidak mampu menampilkan ekspresi wajah, gerakan postur tubuh yang tidak lazim dan kesulitan dalam mengembangkan relasi dengan teman-teman sebaya, tidak adanya minat untuk berbagi kegembiraan atau konsentrasi dengan orang lain dan tidak adanya relasi yang emosional dan timbal balik.
b.      Hendaya Dalam Komunikasi
Menurut pandangan Mark dan David H. Barlow (2007) bahwa ciri-ciri hendaya komunikasi anak autis ditandai dengan keterlambaatan dalam perkembangan bahasa lisan, hendaya memulai ataupun mempertahankan percakapan dengan orang lain, selalu menggunakan bahasa stereotype, retitif, dan idiosinkrasi, ketidakmampuan melakukan permainan peran dan senang meniru sesuai dengan tingkat perkembangannya.
c.       Hendaya Dalam Perilaku, Minat dan Aktivitas
Anak autis akan marah besar jika mengalami perubahan rutinitas, misalnya kamar atau benda-benda lainnya dipindahkan ke tempat lain. Penderita autis sering menghabiskan waktunya berjam-jam melakukan pekerjaan yang stereotyped and ritualistic behavior dan melakukan gerakan stereotype, seperti berputar-putar membentuk lingkaran, melambai-lambai tangan, menggeleng-gelengkan kepala, menggigit-gigit jari tau tangannya.

III.       FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB AUTIS
Penemuan faktor penyebab autis hingga kini belum pasti. Masih banyak pertentangan antara para ahli. Namun, beberapa ahli telah menilai bahwa faktor penyebab autis bersifat multifaktor, yaitu faktor biologis, faktor psikologis dan faktor sosial.
A.      Faktor Biologis
·      Faktor Genetik
Penelitian Cook (2001) menemukan bahwa gangguan autis memiliki komponen genetik dari keluarga yang memiliki anak autis yang berkisar antara 3-5%. Hasil penelitian pada anak kembar ternyata ditemukkan bahwa adanya kesesuaian gen gangguan autis pada anak kembar monozigotik dengan angka kontribusi diperkirakan sekitar 36% (Kaplan, dkk., 1997).
·      Faktor Neurobiologis
Autis berhubungan dengan bentuk kerusakan organik (otak). Penderita autis memiliki kecenderungan retardasi mental sehingga memperlihatkan abnormalitas neurobiologis, seperti kekakuan gerakan tubuh dan cara berjalan yang abnormal. Melalui teknologi brain imaging peneliti menemukan bahwa ada gambaran yang jelas mengenai adanya disfungsi neurobiologis.  Para ahli menemukan adanya abnormalitas cerebellum. Penelitian ini diperkuat oleh penelitian Courchesne (1991) yang menemukan adanya keterkaitan abnormalitas otak bagian cerebellum terhadap pembentukan gangguan autistik.
·      Faktor Kelahiran
Pendarahan selama masa kehamilan sering bersumber dari placenta complication yang menyebabkan gangguan transportasi oksigen dan nutrisi ke janin yang menyebabkan gangguan peekembangan otak.
·      Faktor Imunologis dan Bahan Kimia
Beberapa penelitian telah menemukan bahwa inkompabilitas ilmunologis ibu dan embrio dapat menyebabkan timbulnya gangguan autistik. Hal ini terlihat dari limposit beberapa anak autis bereaksi dengan antibody maternal yang meningkatkan neural embrionik dan ekstra embrionik. Bahan kimia yang harus diwaspadai adalah jenis polyhorinated Biplenyis dan pestisida organofos.
·      Faktor Virus
Jenis-jenis virus yang dapat memicu autis adalah virus herpes, eptern bass, dan human herpes virus. Virus ini dapat menyebabkan kejang-kejang sebagai salah satu karakteristik spektrum autistik.
·      Faktor Vaksinasi
Pemberian vaksin hepatitis B dan MMR (mumps, measles and Rubella) yang terlalu banyak bisa berakibat dalam pembentukan autistik.
B.       Faktor Psikologis Dan Keluarga
·      Faktor Psikologis
Faktor psikologis yang dapat menyebabkan gangguan autis adalah ketidaksadaran dan ketidak pahaman akan eksistensi diri sebenarnya berbeda dengan orang lain, tidak mempunyai kepercayaan diri pada kekuatan dan potensinya.


·         Faktor keluarga
Belum ada bukti yang signifikan yang mengatakan bahwa keluarga yang menyimpang atau kumpulan faktor psikodinamika yang dapat menyebabkan terjadinya perkembangan dan pembentukan autistik. Akan tetapi, pada anak autis memiliki respon stresor psikososial seperti kelahiran adik baru atau baru pindah rumah.
Jenis-jenis terapi
a.       Terapi okupasi
Terapi okupasi menekankan pada usaha penguatan otot-otot anggota tubuh, yakni penguatan, memperbaiki sistem koordinasi gerakan, dan pengembangan keterampilan otot-otot tubuh.
b.      Terapi Wicara
Speech therapy merupakan salah satu metode meningkatkan bicara pada anak autis. Penatalaksanaan memakai analisis ABA (Applied Behavior Analyziz). Jenis terapi wicara lainnya antara lain DDT, LEP, option therapy, TEAHC.
c.       Sosialisasi Reduksi Perilaku Tidak Wajar
Metode ini di mulai dengan kepatuhan kontak mata, pengenalan konsep kognitif dengan pola bahasa reseptik dan ekspresif. Setelah itu anak diajarkan untuk berperilaku sesuai tata krama.
d.      Terapi Biomedik
Pemberian obat-obatan terhadap anak autis. Tujuan dari terapi ini yaitu mengurangi rasa ansietas, agitasi psikomotorik berat dan kepekaan yang ekstrim pada stimulasi lingkungan. Jenis obat yang digunakan adalah antipsikotik, stimulan sistem syaraf dan anti depresan.
e.       Terapi Lingkungan Sosial
Terapi ini lebih menekankan pada pemberian stimulasi pengalaman yang biasa terjadi pada kehidupan sehari-hari secara berulang-ulang dan mempertahankan jadwal perawatan dan aktifitas bermainnya secara konsisten.

f.       Terapi Bermain
Terapi ini dimaksudkan agar anak dapat berinterakasi sosial dengan teman-temannya danmengungkapkan emosinya. Dia harus siap diperlakukan penuh kasih sayang tak bersyarat, penuh perhatian, sikap penerimaan, dan penghargaan.
g.      Fisioterapi
Terapi ini merangsang perkembangan dan kontrol tubuh anak.
h.      Terapi Psikologis
Terapi ini diberikan kepada anak autis dalam usaha meningkatkan kemampuan bahasa, self-help, perilaku, sosial, dan mengurangi perilaku aneh.